Rabu, 16 September 2010
Tak terasa hari sudah pagi. Pagi yang cerah, ketika Regina membuka gorden dan terlihat bangunan Kota Shanghai yang menjulang tinggi. Saya dan Regina bergegas mandi. Kak Mela sudah siap dari pagi sekali dan sarapan duluan. Kami memakai baju batik. Hari itu jadwalnya adalah mengunjung R&D Research Center HUAWEI dan World EXPO 2010.
Setelah mandi, saya dan teman-teman lainnya sarapan di restaurant. Wah, benar-benar mewah. Saya mencoba makanan disana. Pertama-tama saya tentunya mengambil nasi dan hidangan lainnya. Sepertinya memang kurang lengkap tanpa nasi. Setelah itu, ternyata saya masih lapar, jadi saya mengambil makanan lagi seperti sereal dan yogurt. Saya makan tiga ronde.
Setelah kenyang, saatnya kami bergegas ke R&D Research Center untuk bertemu bersama Bu Menteri. Selama perjalanan, saya memandangi Kota Shanghai dengan saksama. Benar-benar bersih. Padahal jalannya besar sekali. Lagipula tidak macet. Di pinggir jalan saya lihat toko-toko menggunakan huruf kanji. Rasanya aneh saja melihat KFC yang dijadikan huruf kanji, begitupula dengan Pizza Hut. Benar-benar penduduk China sangat mencintai bahasa mereka. Lebih kurang 1 jam, sampailah kami di R&D HUAWEI Research Center. Disana sudah ada Bunda Linda, Pak Agum Gumelar, dan rombongan lainnya disambut oleh Mr. Junfeng Guo.
Kami berfoto bersama terlebih dahulu, baru kemudian melihat teknologi-teknologi yang dikembangkan HUAWEI. Bagi saya yang haus teknologi, saya sangat antusias sekali berada di tempat tersebut. Saya melihat ada huawei fiber optic. Apalagi kita menggunakan fiber optic ini maka kecepatan internet akan sangat cepat. Mungkin kalau menggunakan ini saya tidak perlu menunggu lama untuk membuka admin control panel pada blog. Kemudian ada pula HDTV yang bisa memesan siaran melalui internet. Jadi televisi layar datar tersebut dapat diatur siarannya sesuai kebutuhan kita. Apabila ingin menonton sesuatu yang tidak terdapat pada list siaran, maka kita dapat langsung memesannya melalui internet. Tentunya TV tersebut sudah langsung terhubung ke internet. Selain itu terdapat pula telepresence video conference. Sungguh mengagumkan, tidak perlu lagi hanya bertatap-tatapan untuk dapat berkomunikasi. Jangkauannya bisa satu ruangan. Sehingga teknologi ini sangat baik apabila diterapkan di ruang kelas. Seandainya ada guru yang berhalangan hadir di kelas untuk mengajar, maka guru tersebut dapat memantau muridnya dari jauh dan murid-murid di kelas tersebut dapat berkomunikasi dengan gurunya itu. Mengagumkan bukan? Selain itu masih banyak lagi teknologi di R&D ini yang membuat saya terkagum kagum.
Kemudian kami dijamu di sebuah ruangan milik HUAWEI. Disana, Pak Junfeng Guo selaku pimpinan HUAWEI menjelaskan mengenai sejarah HUAWEI. Ternyata HUAWEI baru berdiri pada tahun 1988. Didirikannya HUAWEI adalah untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi masyarakat China yang sebelumnya dikuasai oleh asing. Tahun 1992 HUAWEI mulai memproduksi berbagai macam alat, produk, dan pengembangan research untuk customer, hingga akhirnya di tahun 1995 HUAWEI sudah memiliki 1500 juta lebih R&D. Di umurnya yang masih muda dibandingkan dengan perusahaan telekomunikasi lainnya, HUAWEI sudah beridiri di 100 negara di dunia dan telah melayani 45 operator dari 50 operator terbaik di dunia. Jadi dapat dikatakan HUAWEI merupakan investasi besar di bidang teknologi. Dalam acara ini, Bunda Linda menyampaikan sambutan dan diisi dengan pementasan wayang oleh dalang cilik kita, Yoga ditemani oleh Sinta sebagai penerjemah. Acara ini diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan yang sangat cantik.
Acara dilanjutkan dengan makan siang. Selanjutnya kami menuju World Expo 2010, acara 5 tahunan yang pesertanya berasal dari seluruh dunia yang menunjukkan kebudayaan masing-masing Negara. Menurut informasi, luas World Expo 2010 adalah ¼ kota Jakarta. Sangat luas. Saya rasa akan membutuhkan tenaga ekstra untuk mengelilingi seluruh wilayah ini. Banyak sekali terlihat pengunjung tentunya dari berbagai Negara. Saat di eskalator saja, saya bertemu dengan orang Portugis. Tentunya yang paling banyak yaitu dari China sebagai tuan rumah. Sejauh mata memandang, World Expo 2010 disambut dengan pavilion China yang berwarna merah menyala. Namun kami tidak berkunjung ke sana karena mengingat waktu. Tujuan utama kami adalah Paviliun Indonesia.
Kami sampai di depan paviliun Indonesia. Terlihat jelas, itu negaraku, Indonesia. Bambu yang mendasari fondasi dari paviliun tersebut, merah putih yang membentuk tulisan Indonesia, penjual sate yang ramai dikunjungi pembeli yang mengantri, ditambah dengan panggung yang menampilkan kesenian dari Medan dan menanyakan “apa kabar”, mencirikan itu Indonesiaku. Itu bahasaku, Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang berkumandang di dataran China. Kemudian kami masuk ke dalamnya dan berhati-hati agar tidak terpisah. Pengunjung Paviliun Indonesia sangat ramai.
Saya bangga menjadi seorang Indonesia. Mengapa? Karena bangsa saya menjunjung tinggi keanekaragaman atau biodiversity. Itulah tema yang diangkat di World Expo 2010 ini. Ada bermacam-macam kebudayaan dari provinsi-provinsi yang ada di Indonesia. Dari sabang sampai merauke. Ada alat-alat musik tradisional, batik, becak, wayang, tenun, keindahan alam dan panorama, menjadikan itu semua Indonesia banget. Saya juga menandatangani di sebuah monitor sebagai bentuk dukungan pulau komodo menjadi bagian dari new7wonders. Betul-betul saya merasa berada di Indonesia saat berada di pavliun tersebut. Padahal saya saat itu sedang berada di China. Yang saya sayangkan di paviliun ini yaitu bukan orang Indonesia yang menjadi penjaganya. Coba saja orang Indonesianya langsung, pastinya akan lebih berkesan di Indonesia.
Selanjutnya kami berkunjung ke paviliun Negara lain. Sebenarnya saya ingin ke paviliun Jepang, tapi mayoritas ingin berkunjung ke paviliun Negara di Benua Eropa. Kami mengunjungi paviliun Slovakia. Selain karena tidak perlu mengantri, bentuk bangunannya lucu sekali. Paviliun Slovakia menampilkan budaya Eropa dengan sentuhan modern. Saya mencoba gaun modern Slovakia seperti gaun-gaun bangsawan jaman dahulu. Padahal saya hanya tinggal menaruh kepala saja. Seakan-akan saya memakai baju tersebut.
Kemudian kami berkunjung ke paviliun Turki. Semua orang yang balik dari paviliun Turki, pasti makan es krim. Jadinya kami ikut pula membeli es krim. Saya penasaran apakah es krimnya yang membuat pengunjung harus mengantri untuk membeli es krim. Ternyata benar, selain karena es krim yang legit, penjual es krim Turki tersebut juga sangat heboh. Apalagi ketika mendengar bahwa kami berasal dari Indonesia. Mungkin saya belum menemukan penjual es krim seheboh itu di Indonesia.
Bentuk-bentuk bangunan di World Expo 2010 sangat menarik. Ada United Kingdom yang bangunannya berbentuk seperti landak. Ada Jerman yang bentuk bangunannya putih bersih. Ada Latvia yang menampilkan kelap kelip di bangunannya. Sepertinya semuanya sangat menarik untuk dikunjungi. Tapi apa daya karena hari sudah malam dan sepertinya kaki kami tidak kuat lagi untuk berjalan, kami segera naik ke bus dan kembali ke hotel. Yang saya renungkan selama perjalanan, biasanya ketika mengunjungi suatu tempat yang penuh dengan keramaian, biasanya banyak ada sampah. Namun disana saya melihat sampah tidak ada yang berserakan. Sungguh mengangumkan. Mungkin kalau kita membuang bungkus permen kecil saja, akan terlihat sekali karena jalanan sangat bersih.
Kami sampai di hotel dan selanjutnya mencari makan. Kami makan di restoran Thailand. Sepertinya selera orang Thailand mirip dengan Indonesia. Asam dan pedasnya benar-benar terasa. Saya dan teman-teman sangat menikmati masakan di restoran ini. Apalagi ditambah dengan kelompok music asal Filipina yang bisa menyanyikan sebuah lagu Indonesia.
Kamis, 17 September 2010
Hari ini adalah hari ketiga kami berada di Shanghai. Kami berencana untuk pergi ke SWFC Observatory Tower yang merupakan menara tertinggi di dunia. Sesampainya disana, saya penasaran sebenarnya seberapa tinggi. Ternyata saya melihat tingginya saya malah menjadi pusing-pusing. Mungkin karena terlalu tinggi. Banyak sekali rombongan yang ikut mengantri untuk bisa masuk ke dalam menara ini. Ada yang dari China sendiri bahkan dari negara lain. Sepertinya kalau ke Shanghai, akan kurang lengkap kalau tanpa berkunjung ke menara ini. Menara ini terdiri dari seratus lantai dan kami akan menuju lantai 100 dan memandang Kota Shanghai dari ketinggian 474 meter. Sebelumnya kami menuju lantai 97 terlebih dahulu. Liftnya cepat sekali dan membawa kami ke ketinggian 425 meter. Dari lantai 97 kami melihat Kota Shanghai dari kaca yang ada. Karena saat itu siang hari jadi agak susah untuk memotret. Tapi kami hanya sebentar saja di lantai 97 karena kami naik lift lagi untuk melanjutkan ke lantai 100.
Awalnya di lantai 97 itu di pinggir-pinggir dilapisi kaca. Namun ternyata di lantai 100 ini lantai terbuat dari kaca bening. Jadi serasa menyeramkan untuk berpijak diatasnya. Apalagi bisa melihat pemandangan di lantai. Sepertinya mobil-mobil terlihat seperti mainan.Di pinggiran juga saya melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Saya dapat melihat aktivitas Kota Shanghai saat itu. Ada rumah-rumah yang atapnya berwarna merah, biru, hijau, Sungai Huangpu yang membentang dan gedung tinggi yang menjulang. Setelah puas berfoto-foto ria di lantai 100, kami selanjutnya menuju lantai 94 sebelum turun ke lantai dasar. Di lantai 94 terdapat penjual souvenir khas SWFC dan Shanghai World Expo 2010. Di lantai 94 kita juga bisa menyewa teropong untuk melihat pemandangan dengan biaya RMB 1 permenitnya. Namun ketika saya ingin mencobanya, ternyata kami harus segera bergegas untuk menuju destinasi lain. Sebelum itu saya ke toilet terlebih dahulu. Toiletnya canggih sekali. Ada banyak sekali tombol bahkan temperature air juga dapat diatur. Saya menjadi bingung karena tombol-tombol tersebut ada banyak. Destinasi selanjutnya adalah Old Town tepatnya di Yuyuan.
Sepanjang perjalanan saya merenung sejenak. China dahulu lebih terbelakang dari Indonesia. Banyak yang meludah sembarangan dan kekayaan alamnya tidak sebanyak Indonesia. Namun mengapa sekarang China malah jauh lebih di depan Indonesia dan diperkirakan menjadi Macan Asia lain seperti Korea Selatan dan Jepang. Sungguh membuat saya tercengang.
Tak lama kemudian, kami sampai di Yuyuan, kemudian kami menuju Yuyuan Garden. Yuyuan Garden merupakan kebun dari kerajaan yang dahulunya terdapat di Shanghai. Kebun bagi masyarakat China merupakan suatu wadah untuk mengapresiasikan seni mereka. Maka dapat dibayangkan bahwa kebun di China sangat Indah. Ada sungai-sungai kecil dengan lampion-lampion menghiasi, jalan setapak yang ada, pohon-pohon yang dibentuk, bangunan-bangunan kecil berbentuk naga dan lancip-lancip seperti khasnya China, sangat Indah. Semuanya masih terawat di sini. Padahal Yuyuan garden ini merupakan peninggalan dari kerajaan Shanghai ribuan tahun yang lalu. Dari sini saya belajar kalau kita hendaknya menjaga kebudayaan yang telah diwariskan oleh leluhur kita. Tentunya saya akan menjaga budaya Bali dan juga budaya Indonesia. Seperti kata orang, Think Locally, Action Globally.
Sehabis mengunjungi Yuyuan Garden, kami tentunya juga berbelanja di Yuyuan Mart. Sebuah tempat belanja yang murah dan konon paling murah di Shanghai. Langsung saja satu hal yang saya ingin beli adalah gantungan kunci. Saya ingin memberikan oleh-oleh untuk teman-teman. Kemudian disana saya juga bersama teman-teman yang perempuan menawar flashdisk 64 GB seharga RMB 280 menjadi RMB 55. Suatu penawaran yang fantastis. Ternyata Sinta salah ambil. Dia mengambil flashdisk 120 GB secara tidak sengaja. Sungguh beruntung. Kemudian kami membeli baju kaos Shanghai yang semula RMB 40 kami tawar setengah harga. Sampai-sampai, teman-teman yang laki-laki yang tidak menawar seharga itu iri. Terutama Kang Cecep. Namun waktu kami belanja hanya 1 jam. Jadi untuk berkeliling Yuyuan Mart yang luas itu belum cukup rasanya bagi kami. Akhirnya kami kembali ke hotel dan bersiap untuk makan malam.
Selanjutnya kami makan malam di restoran Thailand lagi. Itu mungkin untuk terakhir kalinya kami ke sana karena makan malam selanjutnya di tempat lain. Disana para penyanyi Filipina yang energik mengajak kami untuk menari bersama. Sangat menakjubkan, saya dan teman-teman dari Indonesia di hadapan para pengunjung restoran menari mengikuti irama yang dialunkan. Setelah selesai makan malam, kemudian kami pergi ke hotel untuk beristirahat.
Bersambung
Filed under: Diary Ditandai: | anak Indonesia, Kemntrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pemimpin Muda Indonesia, Shanghai







